Memarnya masih terlukis indah
Sisa-sisa darahnya yang tersisa turut mewangi semerbak
Di atas Zenith yang tak tergoyah
Entitas fana tengah menguak koyak
Ada entitas yang runtuh sebelum megah
Begitupun ada yang megah lalu binasa mengerikan
Ada yang terlipat dalam senja di ujung horizon
Ada juga yang membiru dalam dekap hangat sang lautan
Entah simfoni mana yang menjadi jawaban di ujung jalan
Lantaran bentala sudah mengupayakan segalanya
Waktu sudah berlalu penuh kasih kesabaran
Namun tetap saja
Ada yang utuh dalam ketidaksempurnaan
Juga ketidaksempurnaan dalam sesuatu yang utuh
Ada sorak-sorai dalam gembira buana
Juga sorak-sorai dalam nestapa anitya
Hai
Tetaplah bawa nafasmu dalam melangkah
Agar kau tidak dijemput kekosongan
Hanya karena memar-memar yang silau terkena terik
Atau derita yang serupa cekik
Tetaplah
Dengan segala hal
yang masih bisa kau genggam
Entah itu gembira mu yang sementara
Atau duka mu yang ditunggu tanpa alasan
Atau mungkin bekas dari segala porak poranda
Tetaplah
Selagi engkau masih tetap menggen
ggam
