Kala mentari menampakkan diri
Ku lihat semut-semut yang ikut menjalin hari
Langkah mereka menelusuri tapak sendiri
Dengan bahasa nasional yang mereka bangun demi diri sendiri
Semut-semut itu
Variatif jenisnya
Tak ayal konyol matinya
Namun kerja kerasnya lebih besar dari para keparat
Gotong royongnya bahkan lebih bernyawa dari pada segerombolan manusia
Sayangnya
Meski telah merajut asa dengan seluruh upaya
Semut-semut itu binasa tanpa makna
Tak pernah disadari, apalagi ditangisi
Oh semut, berapa ironisnya takdirmu
Semoga, takdirmu tidak menjelma dalam bentuk yang lain
