Komedi paling lawak
Adalah saat tapakku melangkah pergi
Dari persimpangan yang teramat mencabik
Namun juga persimpangan yang teramat ku sayangi
Sebab di sana engkau berdiri tegak
Eksistensimu menggoyahkan keyakinanku sendiri
Tidakkah kamu tahu
Betapa hebatnya jerih payahku
Agar bisa lepas dari segala hal tentangmu
Entah itu suara tawa mu yang tertinggal oleh waktu
Atau sepasang netra yang masih menemukan jalan ke dalam jiwa ku
Kisah yang ku gadang-gadang akan jadi momentum kebahagiaan
Nyatanya hanya jadi nestapa yang tiada hentinya
Aku terus menutur asmaraloka dalam doa yang kupanjatkan
Dalam sunyi aku tak lupa berharap pula
Agar asa menyatu itu terwujudkan
Namun sepertinya aku yang terlalu konyol dalam cinta
Kini aku melangkah pergi, sekali lagi
Dan engkau pastinya masih di sana
Mengulas senyum terbaikmu
Yang sukses menghantui tiap bagian dari diriku
Tidakkah kau tahu?
Aku terlalu mencintaimu
Hingga satu-satunya cara yang tersisa untuk mencintaimu adalah pergi darimu
Mungkin kita tidak pernah digariskan utuh
Mungkin tidak akan pernah menyatu
Tapi aku tahu
Persimpangan yang ada dirimu
Adalah persimpangan kesayanganku
Hidup
Memang komedi
Dan kamu
Komedi gelap yang akan selalu menjadi humorku
Dan aku
Adalah badut komedi gelap itu
