Intrik licik mulai melucuti kemanusiaan
Keegoisan tak mau tertinggal, ia turut bertumpah ruah
Entah regulasi mana yang akan kembali tertahan
Entah kebijakan mana lagi yang tak diminta namun malah berlimpah
Mulut-mulut riuh mengatasnamakan kebaikan
Namun mereka yang kecil bak terserang wabah
Gundah gulana menyambar rakus dimana-mana
Ketakutan menjadi melodi musik yang memenuhi jiwa
Permainan di atas papan kian panas masanya
Amarah mencuat tak diminta
Tak ayal, kesengsaraan tiba melanda
Suara-suara kecil yang keluar dianggap dosa
Bahkan perihal hak pun terampas tak berdaya
Dari mana semua perkara bermula?
Apakah dari mereka yang duduk di singgasana Borjuis kemewahan,
atau dari mereka para proletariat yang berkerja demi sesuap nasinya?
Apakah dari generasi muda yang dijejali ilusi instan,
Ataukah dari media yang lebih memilih tenar daripada benar?
Kita terombang-ambing tanpa alasan
Dipermainkan seumpama boneka pasang
Dilucuti, dirampas, dan dipatahkan
Oleh tangan-tangan sang dalang
Ironisnya, kita perlahan lupa menjadi manusia
Menjadi manusia yang berakal
Manusia yang berpikir dan bersuara
Tapi hak-hak dasar itu tercerai begitu saja
Tak mengapa, jika kita masih mencoba melawan masa depan yang gelap
Jika kita tak membiarkan kekuasaan menjelma senjata yang membungkam
Lantaran kekuasaan berdiri di atas tonggak demokrasi
Kita tidak boleh lupa
Menjadi manusia adalah mengingat
Mengingat agar tidak mengulang kesalahan
Menjadi manusia adalah bersuara dan berpikir
Bersuara adalah keharusan
Berpikir kritis bukanlah ancaman
Protes tidak sama dengan cendala
Jika itu bisa menutup lubang celaka
Atau memusnahkan akar derita
Mengapa tidak?
Sebab itulah eksistensi kita
Dan begitulah seharusnya kita
